Jumat, 28 Maret 2014

Tanah Surga "Katanya"




Bukan lautan hanya kolam susu 'katanya'
Tapi kata kakekku hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu
Kail dan jala cukup menghidupimu 'katanya'
Tapi kata kakekku ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara
Tiada badai tiada topan kau temui 'katanya'
Tapi kenapa ayahku tertiup angin ke malaysia
Ikan dan udang menghampiri dirimu 'katanya'
Tapi kata kakek awas ada udang di balik batu
Orang bilang tanah kita tanah surga

Panglima



*Siti Rukiyati


Pagi ini kau berkelakar tentang kami yang tak segera mendewasa. Tentang kaos kaki, tong sampah, dan juga deretan angka. Suaramu masih kurekam jelas dalam ingatan, kendati tujuh hari telah berlalu. Kami pendengar setia nyanyian pagi, meski telinga kami terowongan. Mata kami yang menatap layar lebih asyik berselancar di beranda. Atau bisik kami yang lebih mirip arisan. Dan kau selalu mengerti.

Baru saja kau rebah di kursi depan membuka kitab kealpaan. Jangan tanya kenapa? Sebab kau adalah panglima penagih janji pasukan.  Siapa, kenapa, dimana, bagaimana?     Kau bagai sirine dalam kesesatan. Lampu merah di perempatan kenakalan. Kau tunjukkan dimana kami harus lurus . Dimana kami harus berbelok. Bagaimana menghindar dari jalan berlubang, menyingsing seragam di keruh air hujan.
Kedisiplinan, kecerewetan, segala protes kami yang berhamburan. Script, Php-mysql, examp, html, error. Hah, bahkan wajahmu menjelma jadi alarm tugas-tugas kami. Cambuk menidurkan malas.